Syam Organizer kembali mengadakan event untuk kalangan umum di wilayah Muntilan - Magelang. Kegiatan ini bertempat di Rumah-Qu Masjid Mustaqim Muntilan.
Kegiatan pelatihan jurnalistik ini dijadwalkan untuk dilaksanakan sebanyak 3 kali. Untuk kali terakhir berupa penulisan beriat di media on-line. Sebagai nara sumber utama adalah beliau Eman Mulyatman, S.Sos (Mantan Pemimpin Redaksi Malah Sabili)
Banyak hal disampaikan dan menjadi wahana dan wawasan baru untuk penulisan berita dan berbagai media yang sangat dibutuhkan oleh seorang penulis, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman. Teknik menulis, dilanjut teknik wawancara sampai pada penulisan dan layout pada tingkat redaksi. Terlebih ketika penulisan sebuah berita yang akan dimual di media on-line, terasa banyak sekali masukan yang berharga dan menarik yang diperoleh para peserta pelatihan.
Pelatihan terakhir (ke-3) dilaksanakan hari Ahad 16 Maret 2014, dengan dua sesi acara yaitu 1. lanjutan paparan materi oleh Bapak Eman Mulyatman, S.Sos. Sesi 2 Materi Penulisan Berita di Website / media on-line dengan nara sumber Bpak Jundab.
Syam Organizer untuk Kabupaten Magelang berkantor di Jln Syailendra Raya Borobudur - dibawah komando Bapk M Sulkhan, bersama Ustadz Pravit, dkk.
Minggu, 16 Maret 2014
Sabtu, 22 Februari 2014
INFO KAJIAN LAZIS ADZIKR
Kajian yang rutin akan membawa diri seorang muslim dengan ruhani yang selalu segar dan akan berdampak pada kesehatan jiwa raga, terlebih akan berpengaruh pada derajat dan kualitas keimanan seorang.
Pentingnya sebuah kajian yang rutin seperti pentingnya air dan makanan bagi tubuh. Jika seorang yang mengaku sebagai muslim namun tak mengikuti kajian secara rutin (atau bahkan mungkin tak pernah) maka jiwanya akan jauh dari rasa nyaman, gersang dan jauh dari bimbingan ilmu, serta dekat kepada kesesatan - naudzubillahi min dzalik.
Ikhwan dan Akhwat ... berikut akan kami sampaikan beberapa informasi terkait kajian rutin yang diselenggarakan di kawasan Muntilan, Magelang dan sekitarnya yang dilaksanakan dibawah koordinasi dari LAZIS ADZIKR MAGELANG.
Pentingnya sebuah kajian yang rutin seperti pentingnya air dan makanan bagi tubuh. Jika seorang yang mengaku sebagai muslim namun tak mengikuti kajian secara rutin (atau bahkan mungkin tak pernah) maka jiwanya akan jauh dari rasa nyaman, gersang dan jauh dari bimbingan ilmu, serta dekat kepada kesesatan - naudzubillahi min dzalik.
Ikhwan dan Akhwat ... berikut akan kami sampaikan beberapa informasi terkait kajian rutin yang diselenggarakan di kawasan Muntilan, Magelang dan sekitarnya yang dilaksanakan dibawah koordinasi dari LAZIS ADZIKR MAGELANG.
- Kajian rutin pekanan, dilaksanakan setiap malam Ahad (Sabtu, bakda magrib). Bertempat di sekretariat Lazis Adzikr : Mushola Annur / Rumah Bapak Moh. Saprodin - Banaran Sedayu Muntilan Magelang. Ustadz yang diberikan amanah untuk membimbing beberapa ikhwan adalah Ust. Saprodin, Ust. Luqman, Ust. Wawan, Ust. Habib. Kajian malam Ahad ini diikuti beberapa ikhwan antara lain : Ust. Pravit, Ust. Misbahudin, Ust. Labib, Nurhadi, Suyadi dan Maryanto dengan Ketua pelaksana Ust. Pravit.
- Kajian rutin Ummahat, dilaksanakan 3 pekan sekali dengan cara keliling. Maksudnya tempatnya berkeliling dari rumah ummahat 1 ke ummahat yang lain. Sebagai pembimbing / ustadzah adalah Ukhti Satya (istri ustad Wawan). Dengan berkeliling sekaligus sebagai ajang silaturahmi bagi para ummahat untuk menambah kedekatan antar jamaah.
- Kajian rutin bulanan. Kajian bulanan bertempat di Masjid Mustaqim Muntilan. Tema kajian tentang aqidah dengan nara sumber utama Ustad Mas'ud LC dari Solo. Waktu kajian aqidah setiap Senin pekan pertama (malam Selasa). Dimulai bakda Isya' - sholat ditempat. Kajian ini sebelumnya dilaksanakan di Pondok Pesantren Muh. Muntilan - kurang lebih 1 tahun, kemudian pindah di masjid Nurul Huda Borobudur - hingga beberapa bulan dan akhirnya kembali dilaksanakan di Muntilan hingga saat ini.
Sabtu, 04 Januari 2014
Kiat Mengobati Futur Dan Malas Menuntut Ilmu Agama
Futur artinya rasa malas dan lemah setelah sebelumnya ada masa rajin dan semangat. Dalam kamus Lisanul ‘Arab futur didefinisikan,
Penyakit futur dan malas banyak menjangkiti orang-orang yang menuntut ilmu agama dan juga orang-orang yang berusaha menapaki jalan kebenaran. Bagaimana solusinya?
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin pernah ditanya, “banyak penuntut ilmu agama yang lemah tekadnya dan futur dalam menuntut. Sarana apa saja yang dapat membangkitkan tekad dan semangat dalam menuntut ilmu?“. Beliau menjawab:
***
Dha’ful himmah (tekad yang lemah) dalam menuntut ilmu agama adalah salah satu musibah yang besar. Untuk mengatasi ini ada beberapa hal:
Maka bersabarlah! Jika seseorang mampu bersabar lalu senantiasa kembali untuk menuntut ilmu maka lama-kelamaan menuntut ilmu akan menjadi kebiasaan baginya. Sehingga hari ketika ia terlewat dari menuntut ilmu akan terasa hari yang menyedihkan baginya.
Adapun ketika jiwa menginginkan ‘rasa bebas’ sebentar dari menuntut ilmu, maka jangan biarkan. Karena jiwa itu mengajak kepada keburukan. Dan setan itu senantiasa menghasung orang untuk malas dan tidak mau ta’lim (menuntut ilmu).
Sumber: Kitabul ‘Ilmi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, hal 97, cetakan Darul Iman
*) maksud Syaikh, orang yang berilmu lah yang bisa menapaki jalan yang lurus yaitu shiratal mustaqim, dan akan bersama dengan orang-orang menjalani jalan tersebut. Sedangkan siapa saja orang yang menapaki shiratal mustaqim dijelaskan dalam surat An Nisa ayat 69 yang beliau sebutkan. Wallahu a’lam.
Dikutip dari website http://muslim.or.id/
سكن بعد حدّة ولانَ بعد شدة
“diam setelah intensitas tinggi, yaitu setelah melakukan dengan usaha keras”Penyakit futur dan malas banyak menjangkiti orang-orang yang menuntut ilmu agama dan juga orang-orang yang berusaha menapaki jalan kebenaran. Bagaimana solusinya?
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin pernah ditanya, “banyak penuntut ilmu agama yang lemah tekadnya dan futur dalam menuntut. Sarana apa saja yang dapat membangkitkan tekad dan semangat dalam menuntut ilmu?“. Beliau menjawab:
***
Dha’ful himmah (tekad yang lemah) dalam menuntut ilmu agama adalah salah satu musibah yang besar. Untuk mengatasi ini ada beberapa hal:
1. Mengikhlaskan niat hanya untuk Allah ‘Azza Wa Jalla dalam menuntut ilmu
Jika seseorang ikhlas dalam menuntut ilmu, ia akan memahami bahwa amalan menuntut ilmu yang ia lakukan itu akan diganjar pahala. Dan ia juga akan memahami bahwa ia akan termasuk dalam tiga derajat manusia dari umat ini*), lalu dengan itu semangatnya pun akan bangkit.
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ
الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ
وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ
“Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu
akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah,
yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid” (QS. An Nisa: 69)2. Selalu bersama dengan teman-teman yang semangat dalam menuntut ilmu
Dan teman-teman yang dapat membantunya dalam berdiskusi dan meneliti masalah agama. Jangan condong untuk meninggalkan kebersamaan bersama mereka selama mereka senantiasa membantu dalam menuntut ilmu.3. Bersabar, yaitu ketika jiwa mengajak untuk berpaling dari ilmu
Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ
بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ
عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang
menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya;
dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan
perhiasan kehidupan dunia ini” (QS. Al Kahfi: 28)Maka bersabarlah! Jika seseorang mampu bersabar lalu senantiasa kembali untuk menuntut ilmu maka lama-kelamaan menuntut ilmu akan menjadi kebiasaan baginya. Sehingga hari ketika ia terlewat dari menuntut ilmu akan terasa hari yang menyedihkan baginya.
Adapun ketika jiwa menginginkan ‘rasa bebas’ sebentar dari menuntut ilmu, maka jangan biarkan. Karena jiwa itu mengajak kepada keburukan. Dan setan itu senantiasa menghasung orang untuk malas dan tidak mau ta’lim (menuntut ilmu).
Sumber: Kitabul ‘Ilmi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, hal 97, cetakan Darul Iman
*) maksud Syaikh, orang yang berilmu lah yang bisa menapaki jalan yang lurus yaitu shiratal mustaqim, dan akan bersama dengan orang-orang menjalani jalan tersebut. Sedangkan siapa saja orang yang menapaki shiratal mustaqim dijelaskan dalam surat An Nisa ayat 69 yang beliau sebutkan. Wallahu a’lam.
Dikutip dari website http://muslim.or.id/
Langganan:
Komentar (Atom)

